submitgooglesitemap.com Sitemap Generator

Kamis, 30 Oktober 2008

>"THE TRAIL OF BLOOD" Bag. 13

”THE TRAIL OF BLOOD IN AMERICA”

JEJAK DARAH DI AMERIKA

3. Para pengungsi Kongregasionalis dan Presbiterian ini mendirikan perkampungan yang berbeda dan segera dalam daerah mereka masing-masing ditetapkan oleh hukum kepercayaan mereka yang aneh. Dengan kata lain, paham ”Kongregasionalis” dan ”Presbiterian” membuat kepercayaan resmi perkampungan mereka. Hal ini secara mutlak mengeyampingkan semua kepercayaan lainnya. Mereka sendiri melarikan diri dari negara ibu, dengan tanda-tanda darah penganiayaan masih berada pada mereka dan mencari sebuah rumah kebebasan dan kemerdekaan bagi mereka sendiri, segera setelah ditetapkannya perkampungan mereka, di daerah yang baru dan mempunyai kekuasaan, mereka menolak kebebasan beragama bagi yang lain, dan menjalankan metode-metode penganiayaan kejam yang sama. Khususnya perlakuan mereka terhadap para penganut Baptis.

4. Perkampungan-perkampungan daerah Selatan di Virginia, Carolina Utara dan Selatan kebanyakan didiami oleh para pengikut Gereja Inggris. Kepercayaan aneh Gereja dijadikan agama resmi oleh perkampungan-perkampungan ini. Demikianlah di daerah yang baru Amerika, dimana banyak Kongresionalis, Presbiterian dan Episcopal lainnya telah datang mencari hak istimewa menyembah Tuhan sesuai dengan hati nurani mereka, kemudian segera muncul tiga gereja resmi. Tidak ada kebebasan beragama bagi siapapun kecuali bagi mereka yang memegang kekuasaan kepemerintahan. Anak-anak Roma mengikuti jejak darah kaki ibu mereka. Reformasi mereka pun belum sempurna.

5. Para penganut Baptis yang terpencar datang bersama para imigran ke Amerika (beberapa masih dijuluki Ana-Baptis). Mungkin mereka berada disetiap kapal Amerika. Mereka datang dalam kelompok-kelompok kecil, tidak pernah dalam kelompok-kelompok besar. Mereka tidak akan diijinkan datang dengan cara demikian. Namun mereka terus berdatangan. Sebelum perkampungan-perkampungan didirikan seluruhnnya, para penganut Baptis jumlahnya sangat banyak dan hampir disemua daerah. Segera mereka merasakan tekanan dari tiga gereja Negara. Mulai dari penghinaan-penghinaan atas ”pengkabaran Injil” dan ”menolak membaptis anak-anak mereka”,”menentang baptisan bayi”, dan lainnya seperti ketaatan iman mereka, mereka ditangkap, dipenjarakan, didenda, dicambuk, dibuang dan tanah mereka diambil alih, dan lain-lain. Semua di sini di Amerika. Dari banyak sumber, Saya memberikan sedikit ilustrasi.

6. Sebelum perkampungan Massachusetts Bay berumur dua puluh tahun, dengan Kongregasional sebagai agama Negara, mereka mengesahkan undang-undang terhadap para penganut Baptis dan lainnya. Yang berikut adalah sebuah contoh dari undang-undang tersebut:

”Telah ditetapkan dan disetujui, bahwa jika seseorang atau orang-orang dalam wilayah hukum ini secara terbuka mengutuk atau menentang pembaptisan bayi atau secara diam-diam mempengaruhi orang lain dari menerima atau menggunakan dari padanya atau secara sengaja meningggalkan kongregasi atas ordonansi kepengurusan.... setelah melewati periode waktu dan cara penghukuman tertentu—setiap orang atau orang-orang tersebut harus dibuang.” Undang-undang ini dibuat khusus bagi para penganut Baptis.

7. Oleh kekuasaan di perkampungan ini, Roger Williams dan lainnya dibuang. Pembuangan di Amerika pada masa itu adalah sesuatu hal yang sangat serius. Artinya pergi dan hidup diantara orang-orang Indian. Dalam hal ini William diterima dengan baik dan untuk beberapa waktu lamanya hidup diantara orang-orang Indian, dan dikemudian hari terbukti menjadi berkat yang besar bagi perkampungan yang telah membuangnya. Dia menyelamatkan perkampungan tersebut dari mkehancuran oleh suku Indian yang sama, melalui permohonannya yang tulus bagi kepentingan perkampungan. Dengan begitu dia membalas kejahatan dengan kebaikan.

8. Roger Williams, kemudian, bersama dengan yang lain, beberapa dari mereka yang setidaknya juga dibuang oleh perkampungan tersebut, diantaranya adalah John Clarke, seorang pendeta Baptis, memutuskan untuk mengatur perkampungan mereka sendiri. Walaupun mereka belum mempunyai kekuasaan resmi dari Inggris untuk melakukan sedemikian. Tapi mereka berpikir langkah ini lebih bijaksana dibawah keadaan yang sedemikian daripada berusaha untuk hidup dalam perkampungan yang telah ada dengan pembatasan-pembatasan terhadap mereka. Sehingga di daerah yang kecil yang belum diakui oleh perkampungan manapun yang telah ada mereka meneruskan untuk mendirikan bagi mereka sendiri daerah tersebut yang kini dikenal sebagai Rhode Island. Hal itu terjadi pada tahun 1638, sepuluh tahun setelah perkampungan Massachusetts Bay., namun kira-kira dua puluh lima tahun kemudian (1663) sebelum mereka akhirnya memperoleh piagam resmi.

9. Pada tahun 1651 (?) Roger Williams dan John Clarke diutus oleh perkampungan ke Inggris untuk memperoleh, jika memungkinkan izin resmi untuk mengesahkan perkampungan mereka. Ketika mereka tiba di Inggris, Oliver Cromwell yang bertanggung jawab atas kepemerintahan, dan untuk beberapa alasan dia menolak permohonan mereka. Roger Williams kembali ke Amerika. John Clarke tetap berada di Inggris untuk melanjutkan pengajuan permohonannya. Tahun demi tahun berlalu. Clarke terus bertahan. Akhirnya Cromwell kehilangan posisinya dan Charles II menduduki tahta Inggris. Walaupun Charles dalam sejarah dianggap sebagai salah satu penganiaya keji orang-orang Kristen, dia akhirnya, pada tahun 1663, mengabulkan piagam itu. Jadi Clarke, setelah dua belas tahun lamanya kembali dengan piagam tersebut. Jadi pada tahun 1663, perkampungan Rhode Island menjadi institusi sesungguhnya dan para penganut Baptis bisa menulis konstitusi mereka sendiri.

10.Konstitusi tersebut ditulis. Konstitusi tersebut menarik perhatian seluruh dunia. Dalam Konstitusi itulah dinyatakan untuk pertama kalinya di dunia ”Kebebasan Beragama”. Perjuangan untuk kepastian kebebasan beragama bahkan di Amerika sendiri merupakan sebuah sejarah besar. Untuk waktu yang lama tampaknya para pengikut Baptis berjuang sendiri, namun mereka tidak memperjuangkannya hanya bagi kelompok mereka saja tetapi juga untuk semua orang dari setiap kepercayaan. Rhode Island, perkampungan Baptis pertama, didirikan oleh kelompok kecil para penganut Baptis setelah dua belas tahun pengajuan permohonan perizinan adalah daerah pertama di muka bumi dimana kebebasan beragama dibuat melalui undang-undang agraria. Perkampungan tersebut dibuat pada tahun 1638, perkampungan ditetapkan secara resmi pada tahun 1663.

11. Di perkampungan ini dua gereja Baptis diorganisir bahkan sebelum pendirian resmi perkampungan tersebut. Untuk tahun pasti, dari setidaknya salah satu dari gereja tersebut, bahkan para penganut Baptis, menurut sejarah, saling berselisih. Semua tampak menyetujui tahun dari gereja di Providence, oleh Roger William, pada tahun 1639. Untuk tahun dari gereja di Newport oleh John Clarke, semua kesaksian lebih lanjut tampak menunjukkan tahun 1638. Semua petunjuk terdahulu sepertinya memberikan penahunan setelahnya, beberapa tahun kemudian. Gereja yang dipimpin oleh Roger Williams di Providence sepertinya berjalan hanya beberapa bulan. Sedangkan gereja yang dipimpin oleh John Clarke di Newport, masih melangsungkan kegiatannya. Opini Saya pribadi untuk tahun gereja Newport, berdasarkan semua data yang tersedia, tahun yang benar adalah tahun 1638. Secara pribadi, Saya yakin ini adalah tahun yang benar.

12. Mengenai penganiayaan di beberapa perkampungan orang Amerika, kami memberikan beberapa contoh. Seperti tecatat bahwa pada suatu kejadian salah satu jemaat John Clarke jatuh sakit. Keluarga tersebut tinggal dekat batas perkampungan Massachusets Bay dan berada di dalam perkampungan tersebut. John Clarke sendiri dan seorang pendeta tamu bernama Crandall dan seorang jemaat bernama Obediah Holmes—ketiganya pergi mengunjungi keluarag yang sakit tersebut. Ketika mereka sedang mengadakan kebaktian doa bagi keluarga yang sakit itu, beberapa petugas atau pengurus-pengurus dari perkampungan itu datang dan menahan mereka dan kemudian membawa mereka ke pengadilan untuk diadili. Juga dinyatakan, agar mendapatkan tuduhan yang lebih meyakinkan terhadap mereka, mereka dibawa ke pertemuan agama dari gereja mereka (Kongregasionalis), tangan mereka diikat (demikian yang dinyatakan).

Tuduhan terhadap mereka adalah ”karena tidak melepaskan topi pada saat ibadah.” Mereka semua diadili dan dihukum. Gunernur Endicott hadir pada saat itu. Dalam kemarahan dia berkata kepada Clarke, ketika sidang sedang berlangsung, ”Kau telah menentang baptisan bayi”(bukan hal itu yang dituduhkan terhadap mereka). ”Kau pantas mati. Aku tidak mau sampah itu dibawa ke dalam wilayah hukumku.” Hukuman bagi mereka semua adalan denda, atau dicambuk. Denda Crandall (seorang tamu) sebesar lima pounds ($25.00), denda Clarke (pendeta) sebesar dua puluh pounds ($100.00). Denda Holmes (catatan mengatakan dulunya dia seorang kongregasionalis dan kemudian bergabung dengan Baptis) jadi dendanya sebesar tiga puluh pounds ($150.00). Denda Clarke dan Crandall dibayar oleh teman-teman mereka. Holmes menolak dendanya dibayarkan, karena dia tidak melakukan kesalahan, sehingga dia dicambuk. Catatan menyatakan bahwa dia ”ditelanjangi sampai ke pinggang” dan dicambuk (dengan sejenis cambuk khusus) sampai darah membasahi sekujur tubuh dan kakinya sehingga sepatunya kebanjiran darah. Catatan juga melanjutkan bahwa tubuhnya sedemikian terluka dan terkoyak sehingga untuk dua minggu lamanya dia tidak bisa tidur berbaring. Tidurnya harus menyamping disanggah oleh tangannya atau siku dan lutut. Tentang pencambukan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan itu Saya membaca semua catatan, bahkan pernyataan Holmes!. Sesuatu yang tidak bisa lebih brutal lagi,di sini di Amerika!

13. Painter, seorang pria lain, ”menolak membaptis anaknya,” dan memberikan opininya ”bahwa baptisan bayi adalah sebuah ordonansi antikris.” Karena pelanggaran-pelanggaran ini dia diikat dan dicambuk. Gubernur Withrop memberitahukan kami bahwa Painter dicambuk ”karena mencela peraturan Tuhan.”

14. Di perkampungan dimana paham Presbiterian adalah agama resmi, orang-orang yang tidak sejalan (Baptis dan lainnya) tampaknya tidak lebih baik daripada di perkampungan Massachusets Bay dimana paham Kongregasionalis adalan agama resmi.
Dalam perkampungan ini ada kelompok Baptis. Dalam seluruh perkampungan hanya ada lima keluarga. Para penganut Baptis menjunjung tinggi hukum dimana mereka berada, menurut catatan, mereka tunduk hukum. Peristiwa ini terjadi:

Diputuskan oleh penguasa-penguasa perkampungan untuk mendirikan sebuah rumah pertemuan Presbiterian di dalam perkampungan Baptis itu. Satu-satunya cara sepertinya hanya melalui pajak. Para pengikut Baptis menghargai kewenangan Presbiterian untuk memungut pajak tambahan yang baru ini, namun mereka mengajukan permohonan ini terhadap pajak pada saat ini –”Kamu baru saja memulai perkampungan kami. Pondok-pondok kecil kami baru saja dibangun dan kebun kecil dan tanah baru saja dibuka. Ladang-ladang kami belum dibuka. Kami baru saja membayar pajak yang tinggi untuk membangun sebuah benteng sebagai perlindungan terhadap orang-orang Indian. Kami tidak mungkin dapat membayar pajak lainnya sekarang.” Hanya hal ini isi pokok dari permohonan merek. Pajak dipungut. Pada waktu itu tidak mungkin bisa dbayar. Sebuah pelelangan diadakan. Terjadilah penjualan. Pondok-pondok mereka, kebun dan tanah bahkan makam mereka dijual—bukan ladang-ladang mereka yang belum dibuka. Kepemilikan dengan nilai tiga ratus enam puluh tiga pounds dan lima shilling dijual seharga tiga puluh lima pounds dan sepuluh shilling. Beberapa diantaranya, setidaknya diberitakan telah dibeli oleh pendeta yang akan berkhotbah di sana. Perkampungan tersebut kabarnya ditinggalkan begitu saja. Sebuah buku besar bisa dipenuhi dengan hukum yang menindas. Undang-undang pajak yang sangat memberatkan, khususnya ditujukan terhadap para penganut Baptis, tetapi pembahasan-pembahasan ini tidak bisa memberikan secara detail hal-hal tersebut.

15.Di perkampungan-perkampungan daerah Selatan, seluruh daerah daeran Carolina dan khususnya Virginia dimana Gereja Inggris memegang kekuasaan, penganiayaan terhadap para penganut Baptis sangat berat dan berkelanjutan. Sering kali pendeta-pendeta mereka didenda dan dipenjarakan. Dari awal periode kolonial sampai perang Revolusi, lebih dari seratus tahun, penganiayaan-penganiayaan terhadap para penganut Baptis ini berlangsung terus.

16. Kami memberikan beberapa contoh dari penderitaan para penganut Baptis di Virginia yang kelihatan aneh karena kini Virginia adalah daerah setelah Rhode Island yang mengadopsi kebebasan beragama. Namun hal itu lebih dari satu abad lalu. Tetapi penderitaan-penderitaan—sebanyak tiga puluh orang pendeta pada waktu yang berbeda, dipenjarakan dengan satu tuduhan terhadap mereka ”karena mengabarkan Injil Anak Allah.” James Ireland adalah sebuah kasus pada point ini. Dia dipenjarakan. Setelah hukuman penjara, musuh-musuhnya mencoba untuk meledakkannya dengan mengunakan bubuk mesiu. Hal itu gagal, lalu mereka mencoba untuk membunuhnya dengan membuatnya sesak nafas, pada lubang angin selnya dibakar gas belerang. Ini pun gagal, mereka mencoba mengatur dengan seorang dokter untuk meracuninya. Semua ini gagal. Dia tetap berkhotbah kepada jemaat-jemaatnya melalaui lubang selnya. Kemudian sebuah tembok dibangun disekeliling selnya sehingga orang-orang tidak bisa melihat ke dalam ataupun dia melihat keluar. Bahkan kesulitan tersebut pun diatasi. Para jemaat berkumpul, sebuah saputangan diikatkan ke sebuah tongkat panjang dan tongkat tersebut ditancapkan diatas tembok sehingga Ireland bisa melihat ketika para jemaat siap. Khotbah berlanjut.

17. Tiga pendeta Baptis ( Lewis, Joseph Craig dan Aaron Bledsoe) kemudian di tahan dengan tuduhan yang sama. Salah satu dari mereka setidaknya adalah saudara dari R.E.B. Baylor, dan mungkin salah satu pendeta Baptis Texas. Pendeta-pendeta ini kemudian dihadapkan ke pengadilan. Patrick Henry, mendengar hal tersebut dan walaupun berada jauh dan seorang jemaat Gereja Inggris, menunggang kuda ke persidangan dan secara sukarela menjadi pembela mereka. Pembelaannya sangat luar biasa. Saya tidak bisa menggambarkan hal tersebut disini. Dia memenangkan kasus tersebut. Para pendeta itu dibebaskan.

18. Di tempat lain selain Rhode Island, kebebasan beragama datang secara perlahan. Sebagai contoh: di Virginia sebuah undang-undang disahkan mengijinkan satu, hanya satu, pendeta Baptis untuk satu wilayah. Dia diijinkan berkhotbah hanya sekali dalam dua bulan. Setelahnya undang-undang ini diperbaharui, mengijinkan pendeta berkhotbah sekali sebulan. Namun itupun hanya di satu tempat tertentu di wilayah tersebut dan hanya satu khotbah pada hari itu, tidak boleh berkhotbah pada waktu malam hari. Undang-undang disahkan tidak hanya di Virginia tetapi juga di perkampungan-perkampungan lain yang melarang segala pekerjaan misi. Inilah kenapa Judson adalah misionaris asing pertama—dilarang hukum. Perlu waktu yang lama dan banyak perjuangan di Virginia house of Burgesses, untuk memperbaharui undang-undang ini.

19. Jelaslah, salah satu halangan terbesar bagi kebebasan beragama di Amerika, dan mungkin di seluruh dunia mengenai hal tersebut adalah keyakinan yang tumbuh dalam masyarakat selama abad-abad sebelumnya bahwa agama tidak mungkin bisa hidup tanpa dukungan pemerintah. Bahwa tidak ada denominasi yang bisa makmur semata-mata hanya mengandalkan persembahan kasih dari jemaatnya. Dan ini adalah orgumen yang sulit diselesaikan ketika perjuangan bergolak bagi pencabutan gereja resmi atas Gereja Inggris di Virginia dan juga kemudian Kongres ketika pertanyaan atas kebebasan beragama dirundingkan disana. Untuk waktu yang lama para penganut Baptis berjuang sendiri.

20. Rhode Island memulai perkampungannya pada tahun 1638, namun belum sepenuhnya resmi sampai tahun 1663. Di situlah daerah pertama dimana kebebasan beragama diakui. Daerah kedua adalah Virginia pada tahun 1786, Kongres mengumumkan amandemen pertama atas Konstitusi dalam kelompok besar 15 Desember 1791, yang memberikan kebebasan beragam bagi semua warga negara. Baptis dipuji menjadi pemimpin dalam membawa berkat ini bagi negara.

21. Kita pergi untuk memberikan satu insiden awal parlemen. Pertanyaan apakan Amerika Serikat harus memiliki sebuah atau beberapa gereja resmi atau kebebasan beragama, sedang dirundingkan. Beberapa rancangan undang-undang telah diajukan. Ada yang merekomendasikan Gereja Inggris sebagai gereja resmi; yang lain Gereja Kongregasionalis; dan masih yang lain Presbiterian. Para penganut Baptis, banyak dari mereka walau mungkin tidak seorang pun anggota konggres sungguh-sungguh berjuang untuk kepastian kebebasan beragama. James Madison ( setelahnya Presiden) sepertinya adalah pendukung utama mereka. Patrick Henry bangkit dan menawarkan pengganti rancangan undang-undang untuk mereka semua, ”Keempat gereja tersebut (atau denominasi) alih-alih salah satu yang ditetapkan”—Gereja Inggris atau Episcopal, Kongregasionalis, Presbiterian dan Baptis.

Akhirnya ketika yang lain melihat bahwa tidak satu pun bisa menjadi satu-satunya gereja resmi, setiap mereka setuju untuk menerima kompromi Henry. (Rancangan undang-undang yang disetujui bersama menyatakan bahwa setiap orang yang membayar pajak mempunyai hak untuk menentukan ke denominasi mana uangnya harus pergi.) Para penganut Baptis terus berjuang melawan itu semua; bahwa penggabungan apapun dari Gereja dan Negara adalah bertentangan dengan prinsip-prinsip fundamental mereka, bahwa mereka tidak bisa menerimanya bahkan jika melalui pemungutan suara. Henry memohon kepada mereka, mengatakan dia mencoba untuk membantu mereka, bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa hal tersebut namun para penganut Baptis tetap memprotes. Pemungutan suara diadakan—hasilnya hampir suara bulat. Tetapi penghitungan suara harus diadakan sebanyak tiga kali. Baptis dipimpin oleh Madison dan mungkin lainnya terus berjuang. Pemungutan suara yang kedua tiba, hasilnya juga hampir suara bulat, tersapu oleh kefasihan orasi Henry yang mengagumkan. Kini Tuhan mengintervensi. Henry menjadi Gubernur Virginia dan meninggalkan Kongres. Ketika pemungutan suara yang ketiga tiba, tidak adanya kefasihan Henry, pemungutan suara tersebut kalah.
Demikian Baptis hampir menjadi sebuah denominasi yang disahkan melampaui kesungguhan protes mereka sendiri. Ini bukan hanya kesempatan yang pernah dimiliki oleh para penganut Baptis menjadi sah oleh hukum, tapi mungkin yang terdekat yang pernah mereka datangi.

22. Tidak lama setelah ini, Gereja Inggris dicabuut sebagai gereja resmi di Amerika. Tidak ada denominasi keagamaan yang didukung oleh pemerintah pusat (beberapa Negara bagian yang terpisah masih memiliki gereja resmi), Gereja dan negara, sejauh pemikiran Amerika Serikat, seluruhnya benar-benar terpisah. Dua hal ini, Gereja dan negara, di daerah lain, setidaknya selama seribu lima ratus tahun (sejak 313) telah hidup dalam ikatan pernikahan yang tidak kudus. Kebebasan beragama, setidaknya di sini di Amerika Serikat, bangkit kembali dan kini berangsur-angsur namun dibanyak tempat secara perlahan-lahan, menyebar ke seluruh dunia.

23. Tapi bahkan di Amerika Serikat, ide Gereja dan Negara kuat bertahan. Hal tersebut tetap hidup di beberapa Negara bagian yang terpisah, lama setelah Kebebasan Beragama dicantumkan pada Konstitusi Amerika Serikat. Massachusets, dimana ide Gereja dan Negara pertama kali menemukan tempat kekuasaannya di Amerika, telah, seperti yang sudah dinyatakan, akhirnya melepaskan hal tersebut. Ide itu telah hidup di sana lebih dari dua setengah abad. Utah adalah daerah terakhir yang meninggalkan cela wajah bangsa pertama dan besar dimuka bumi, untuk mengadopsi dan menghargai kebebasan beragama. Ingat, tidak akan ada kepastian kebebasan beragama yang sesungguhnya disetiap bangsa dimana pemerintah memberikan dukungannya kepada salah satu denominasi agama yang khusus.

24. Beberapa pertanyaan serius sering kali ditanyakan berkaitan dengan para penganut Baptis: Akankah mereka, sebagai sebuah denominasi, menerima dari bangsa apapun atau negara sebuah usulan ”penetapan” jika bangsa atau negara tersebut memberikan mereka usulan tersebut? Dan, akankah mereka, jikalau menerima usulan tersebut, menjadi penganiaya-penganiaya seperti Katolik atau Episcopal atau Lutheran atau Presbiterian atau Kongregasionalis? Mungkin sedikit pertimbangan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kini tidak akan salah. Apakah Baptis, faktanya pernah memiliki sebuah kesempatan seperti itu? Tidakkah hal tersebut tercatat dalam sejarah, di satu kejadian, Raja Negeri Belanda ( pada masa itu mencakup Norwegia dan Swedia, Belgia, Belanda dan Denmark) mempunyai pertimbangan serius tentang memiliki sebuah agama resmi. Kerajaan Belanda pada masa itu dikelilingi oleh hampir bangsa-bangsa atau pemerintah-pemerintah dengan agama resmi—agama yang didukung oleh pemerintah sipil.

Dikatakan bahwa Raja Belanda membentuk sebuah komite untuk memeriksa pernyataan-pernyataan dari seluruh gereja atau denominasi yang ada untuk mengetahui yang memiliki pernyataan terbaik sebagai Gereja Perjanjian Baru. Komite melaporkan bahwa Baptis adalah perwakilan terbaik dari pengajaran Perjanjian Baru. Lalu Raja menawarkan untuk menjadikan Baptis ”gereja resmi” atau denominasi dari kerajaannya. Baptis berterima kasih namun menolak, mengatakan bahwa hal tersebut bertentangan dengan keyakinan dan prinsip-prinsip fundamental Baptis.

Namun bukan ini saja satu-satunya kesempatan yang pernah mereka miliki menjadikan denominasi mereka sebagai agama resmi suatu bangsa. Baptis pastinya memiliki kesempatan itu ketika perkampungan Rhode Island didirikan. Dan untuk menganiaya yang lain, hal itu akan sangat mustahil jika mereka tetap menjadi penganut baptis. Mereka adalah penyokong asli atas ”Kebebasan Beragama”. Hal itu sungguh salah satu dari pasal fundamental atas iman mereka. Para penganut Baptis percaya akan kemutlakan pemisahan atas gereja dan negara.

25. Begitu kuatnya keyakinan Baptis atas pertanyaan penggabungan Gereja dan Negara sehingga mereka selalu menolak semua tawaran bantuan dari negara. Kami disini memberikan dua contoh. Satu di Texas dan satu lagi di Mexico. Bertahun-tahun lalu ketika Universitas Baylor masih berusia muda, Pemerintah Texas menawarkan untuk membantu universitas tersebut. Namun ditolak walaupun universitas sangat membutuhkannya. Pada saat yang sama Texas Metodis memiliki sebuah sekolah baru. Texas Metodis menerima bantuan Negara, sekolah tersebut akhirnya jatuh ke tangan pemerintah.

Kejadian di Mexico berlangsung seperti ini: W.D. Powell adalah seorang misionaris kami untuk Mexico. Dia membuat kesan yang sangat mendalam tentang Baptis bagi Gubernur Madero, Negara bagian Coahuila lewat pekerjaan misinya. Madero menawarkan sebuah hadiah luar biasa dari Negara , jika Baptis akan mendirikan sebuah sekolah yang bermutu di Negara bagian Coahuila, Mexico. Perkara tersebut diserahkan oleh Powell ke Dewan Luar Negeri. Hadiah ditolak karena berasal dari Negara. Kemudian Madero memberikan sejumlah besar uang pribadi. Hadiah itu diterima dan Institut Madero dibangun dan didirikan.